Perempuan yang Berpura-pura Tidak Tahu
Ada jenis keberanian yang tak tampak. Keberanian itu tidak memekik, tidak meledak, tidak melawan. Ia hanya… diam. Dan di balik diam itu ada perempuan yang tahu lebih banyak dari yang dia ucapkan.
Ia melihat—tanda, perubahan nada, detail kecil yang tak bisa ditipu. Ia tahu, tapi memilih tidak menanyakan. Ia paham, tapi berpura-pura tak mengerti. Bukan karena tidak mampu melawan, tapi karena tahu bahwa jika ia bicara, yang runtuh bukan hanya seseorang… tapi seluruh dunia yang selama ini ia jaga agar tetap utuh.
Perempuan seperti ini tidak bodoh. Ia hanya sangat lelah. Lelah menjadi pengampun satu arah. Lelah mencoba membangun ketika yang lain memilih menjauh. Lelah memikul beban kebenaran sendirian.
Tapi di balik kelelahannya, ada semesta yang tetap menyala—semesta kecil bernama harapan. Dan dari situlah ia mulai memutuskan: bahwa diamnya hari ini bukan karena kalah, tapi karena ia memilih untuk bangkit ke arah lain. Bukan lagi untuk menyelamatkan semua orang, tapi untuk mulai menyelamatkan dirinya sendiri.
Aku Tahu, Tapi Diam
Aku tahu,
tapi memilih diam.
Bukan karena tak mampu bicara,
melainkan karena suara seringkali
tak mengubah apa-apa.
Aku lihat,
tapi membiarkan.
Bukan karena buta,
melainkan karena kenyataan terkadang
lebih melukai dari kebohongan.
Aku terluka,
tapi tetap merawat.
Karena ada cinta
yang tak ingin membalas dengan luka lain.
Aku lelah,
tapi belum runtuh.
Karena di dalam kesunyian yang panjang,
masih ada cahaya kecil
yang ingin menjaga diriku sendiri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar